INTRODUKSI

Panduan untuk karir, pelatihan manajemen dan bisnis, pengembangan organisasi, pengembangan diri, inspirasi, ide-ide inovatif, pengetahuan, latihan, metoda, template, dan sebagainya.
----------------------------

Belajar Manajemen dari Kegagalan Tim Sepakbola Inggris 2010


Sumber & Artikel Top



My Social Blogs
Ketika suatu usaha gagal atau berjuang terpontang-panting mempertahankan hidup, pada umumnya orang mencari penyebab taktis atau insidental yang terjadi, namun akar dari kegagalan biasanya jauh lebih dalam dan mendasar seperti strategi, struktur dan filosofi.

Kinerja buruk tim sepak bola Inggris pada Piala Dunia 2010 FIFA memberikan contoh suatu usaha dijatuhkan oleh masalah mendasar, dan karena itu tak perlu heran mereka GaTot (gagal total).

Berikut adalah beberapa indikator kelemahan mendasar dan kerentanan dalam organisasi dan etos dari upaya sepak bola nasional Inggris. Sama halnya sebagaimana di dunia bisnis, sukses akan sulit manakala pondasinya ringkih dan tak terpadu. Dengan sedikit imajinasi mudah untuk menghubungkan pelajaran / contoh diatas untuk dunia bisnis.

The Premier League atau Liga Utama Inggris (liga domestik Inggris yang menjadi ajang dan sumber pengadaan pemain tim nasional) faktanya didominasi oleh klub-klub yang:

  • Sebagian besar dimiliki dan dikelola serta dilatih oleh orang-orang / perusahaan dari luar Inggris, yang tentunya memiliki minat sedikit dalam keberhasilan tim nasional Inggris, dan dalam banyak kasus mereka tentu loyal terhadap tim sepakbola nasional negerinya masing-masing.
  • Sebagian besar skuad tim klub diisi oleh pemain dari luar Inggris (dua pertiga berasal dari luar negeri), yang mempersempit kolam bakat pemain nasional Inggris, disamping juga membatasi kesempatan bagi bakat-bakat domestik Inggris untuk mengembangkan kemampuan mereka dan menjadi berpengalaman.
  • Klub yang sangat kuat berorientasi pada laba, begitu terlibat sarat utang akan secara efektif menjadi bangkrut.
  • Sebagai konsekuensi dari tekanan komersial tersebut, pemain dipaksa untuk bertanding terlalu sering dalam satu musim (umumnya jauh lebih banyak dari rekan-rekan internasional mereka), tanpa istirahat, dan celakanya Piala Dunia yang berlangsung selama satu bulan itu jatuh pada periode ketika pemain biasanya akan menggunakannya untuk beristirahat dan iuntuk pemulihan (cedera, kebugaran).
Pimpinan Asosiasi Sepakbola, para pengurus pertandingan nasional Inggris, telah selama beberapa tahun menjadi kacau dan terputus-putus, tidak nyambung. Indikatornya adalah:
  • Pengunduran diri Ketua pelaksana dan Ketua Umum PSSI-nya Inggris.
  • Skandal dan pertikaian yang rutin terjadi.
  • Kurangnya kontrol atas permainan dan klub domestik.
Indikator fundamental lainnya:
Inggris memiliki sekitar 10% dari jumlah pelatih FIFA yang berkualitas dibandingkan dengan negara-negara Eropa seperti Spanyol, Jerman, Italia, dan Perancis (sekitar 2.700 dibandingkan dengan sekitar 20.000 atau 30.000 di negara-negara lain). Anehnya atau ironisnya Pelatih tim nasional bukan orang Inggris dan tidak bisa berbicara bahasa Inggris dengan benar. Hal ini tentunya tidak ideal untuk pelatih yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif, dan berdasarkan kewarganegaraan asing itu tidak mungkin memiliki kebanggaan nasional Inggris dalam arti sebenarnya. Apakah orang Inggris akan pernah melatih tim nasional Italia atau Jerman? Ini bukan xenophobia (membenci orang asing) atau diskriminasi, namun hanyalah soal kepraktisan dan akal sehat.


Pelatih Tim Inggris dibayar £ 5 juta (atau 6m £, tergantung pada interpretasi, atau sekitar Rp 75 milyar) per tahun, terlepas dari kinerja. Sekalipun mengalami kegagalan atau pulang lebih awal dari Afrika Selatan, pelatih tetap dibayar secara efektif karena kontrak ditetapkan untuk 2 tahun (walaupun efek ini mungkin untuk menjaga situasi gagal - karena biaya untuk perubahan tidak diperbolehkan).

Pemain Inggris dibayar sekitar £ 100.000 (Rp 1.3 milyar) per minggu, termasuk masih boleh untuk melakukan pekerjaan lain (bermain untuk klub mereka). Kegagalan di tingkat nasional mungkin sedikit mengganggu untuk satu atau dua hari, tetapi tidak benar-benar melukai atau jadi persoalan. Setidaknya satu anggota skuad Inggris (hanya) diminta oleh pelatih untuk berkomitmen bersedia bagi negaranya. Selain itu tak ada yang bisa dipaksakan. Padahal representasi Nasional di ajang internasional adalah puncak prestasi dalam olahraga. Ini mengkhawatirkan ketika calon pemain nasional menolak untuk bergabung di tim nasional, dan sama mengkhawatirkan ketika calon tersebut mesti dikejar dan direkrut dari klub.

Budaya integritas dan etos sepak bola - terutama arti menjadi pemain sepak bola - telah hilang dan masuk ke dunia usaha. Fokus para idola, para teladan (dan karena itu berpengaruh pada anak-anak) tidak lagi pada keterampilan bola dan menjadi yang terbaik - tetapi beralih ke merek, kostum, kaos, sepatu, atau gaya hidup jutawan selebriti. Tidak banyak hal baik yang bisa diharapkan ketika hype (hal-hal yang berlebihan) mendominasi substansi.

Sebuah tim sepak bola nasional dalam banyak hal memang seperti bisnis. Perlu pondasi strategis dan filosofis yang solid. Ketidakselarasan (misalignment) pada tingkat dasar akhirnya menghasilkan masalah di tingkat pelaksanaan taktis atau operasional. Seperti sebuah tim sepakbola nasional, jika bisnis gagal pada tingkat taktis atau operasional, penyebab - dan karena itu solusi - umumnya jauh lebih dalam daripada yang tampak.

Kisah ini dapat bermanfaat dalam mendemonstrasikan / mengeksplorasi alat analisa bisnis strategis seperti SWOT, PEST dan model Five Forces-nya Porter, dan dalam meneliti driver fundamental drivers / indikator viabilitas strategis


1 comment:

Artikel Menarik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar Anda

Recent Comments Widget